Gjb311rikih's Blog

Just another WordPress.com weblog

Pengusaha Cireng Kraton

A.latar belakang pemilihan judul

Dalam keadaan perekonomian yang semakin sulit ini banyak terjadi persaingan di berbagai bidang kehidupan, termasuk didalamnya persaingan dalam dunia wirausaha. Banyak wirausaha yang saling berlomba untuk mendapatkan pangsa pasar, sehingga hal ini memacu wirausaha untuk berusaha terus maju dalam memperbaiki usahanya. Supaya usahanya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, maka wirausaha tersebut harus dapat mengantisipasi perkembangan ekonomi yang semakin kompetitif dengan melakukan strategi yang tepat agar tidak tersisih dalam persaingan. Selain itu wirausaha juga harus dapat mengantisipasi kecenderungan ekonomi di masa mendatang dan harus dapat bersaing dengan wirausaha lain yang bergerak di bidang yang sama. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kemajuan usahanya.
Peningkatan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya kebutuhan hidup memberikan lapangan pekerjaan atau wirausaha baru. Salah satu contoh usaha menjual Cireng Kraton. Dengan semakin meningkatnya akan kebutuhan. Lahirnya usaha atau bisnis baru ini juga menimbulkan pro dan kontra. Baik dari sisi menjual Cireng Kraton maupun bidang-bidang usaha lainnya dari sisi konsumen akan tetapi usaha ini walaupun dikatakan bisnis baru tetapi telah mempunyai pangsa pasar yang tersendiri. Dengan Latar belakang perekonomian saat ini, saya tertarik untuk mengambil judul usaha industri kecil seperti Usaha Cireng kraton kerana usaha ini masih jarang Kompetitor yang Berkecimpung di bidang usaha ini. Kerana usaha Cireng kraton adalah Makanan khas Jawa barat dan tentunya Usaha ini ikut melestarikan kebudayaan Indonesia. Selain itu bagi saya merupakan tambahan pengetahuan dari dunia praktisi dan sebagai pembelajaran sebelum masuk kedunia bisnis.Makanya saya mengambil judul dan meneliti Usaha Cireng Kraton.

B. Pembatasan masalah

• Lokasi : Jakarta , Jl melawai raya no 17 Jakarta selatan 12160. Kota: Jakarta.
BLOK M SQUARE Mall LT. UG http://blokmsquare.blogspot.com/

• Jenis Usaha : Industri Kecil

• Kegiatan Usaha :

Jika selama ini cireng lebih dikenal sebagai makanan ‘kampung’ yang terkesan murahan, namun ditangan Untuk saat ini panganan ini disulap menjadi lebih modern. Modifikasi tidak hanya dari sisi rasa, tapi juga pada pengembangan usaha yakni dengan menerapkan sistem waralaba.
Tanah pasundan sepertinya tak akan pernah habis menelorkan ide-ide kreatifnya, mulai dari fashion, seni, sampai aneka makanannya yang sangat variatif. Tak terkecuali untuk urusan memodifikasi menu makanan. Salah satunya, cireng. Makanan tradisional ini, kini disulap menjadi makanan modern yang tak lagi dijajakan di pinggir jalan melainkan sudah masuk mal.
Cireng Keraton memang terbilang unggul dibanding produk sejenis lainnya. “Cireng saya kualitasnya bagus, dari dari segi rasa, ukuran dan penampilan secara keseluruhan. Kalau cireng lain ‘kan isinya biasa saja, ukuran lebih kecil dan minyaknya itu bisa sampai tembus ke dalam. Jadi orang seperti makan minyak bukan makan cireng. Kalau cireng buatan saya tidak melempem walaupun memang sifat dasar cireng itu alot”, tutur Ucha Pengusaha Cireng kraton ini.
Untuk pengembangan usahanya, Ucha(Pengusaha Cireng kraton Prenchase) menerapkan konsep waralaba. Ia membeli brand Cireng Keraton seharga Rp 12 juta per dua tahun masa kerja sama, dengan model outlet. Jika menginginkan model gerobak harganya tentu lebih murah. Untuk perpanjang kerjasama franchisee hanya diwajibkan membayar Rp 4 juta saja. Franchisee akan dikirimkan produk setiap harinya sehingga franchisee tinggal menjualnya saja.
Karena produk dalam keadaan mentah dan hanya bisa bertahan dalam tempo dua hari maka setiap franchisee tidak bisa memesan produk terlalu banyak. Caranya, franchisee wajib mengabarkan kepadanya berapa jumlah produk yang akan dikirim. Keesokan harinya franchisee sudah menerima produk sesuai pesanan dan siap dijual. Karena itu banyaknya jumlah produk yang terjual tergantung dari lokasi dan tingkat keramaian pembeli setiap outletnya. “Outlet teramai bisa memesan sampai 700 pieces sementara untuk minimal ordernya 250 pieces”, lanjut wanita lulusan Universitas London Shcool http://www.lspr.edu/dev/ tersebut.

C. Isi

Dalam perkembangannya Cireng Asli PasundanBandung ini, isi oncom atau kacang cireng yang sebelumnya sering dijumpai, telah dimodifikasi sedemikian rupa dengan isian lain seperti ayam, daging, sosis, baso bahkan makanan internasional macamnya teriyaki, pizza dan barbeque. Ide memodifikasi kudapan ini muncul dari seorang guru yang hobi memasak bernama Nurhayati yang rela berhenti bekerja sebagai guru demi keinginannya membuka usaha ini. Ucha, demikian ia disapa menamai penganan modifikasinya dengan Cireng Keraton. Alasannya, menurut, penamaan Cireng Keraton lebih mudah diucapkan sekaligus diingat. Terlebih lagi, keraton yang identik dengan kalangan atas dianggap mampu mengangkat image cireng yang terlanjur lekat dengan jajanan rakyat kecil. “Keraton ‘kan kesannya high class, jadi bisa membuat cireng naik kelas lah.
Berawal dari hobi memasak yang sudah ia lakoni sedari kecil, telah membawanya menemukan cireng modifikasi ini. Bermodal pengalaman berjualan kue semasa Ucha mencoba menjajakan cireng buatannya. Tak disangka, responnya sangat positif. Outlet yang ia Buka di Blok M Suqure berhasil Menghasilkan keuntungan. Modal awal yang ia gelontorkan sebesar Rp16 juta, jumlahnya kini telah meningkat. Tentu semua itu tidak diperolehnya secara mudah.
Karena produk dalam keadaan mentah dan hanya bisa bertahan dalam tempo dua hari maka setiap franchisee tidak bisa memesan produk terlalu banyak. Caranya, franchisee wajib mengabarkan berapa jumlah produk yang akan ucha minta dikirim. Keesokan harinya ucha sudah menerima produk sesuai pesanan dan siap dijual. Karena itu banyaknya jumlah produk yang terjual tergantung dari lokasi dan tingkat keramaian pembeli setiap . “Outlet teramai bisa memesan sampai 700 pieces sementara untuk minimal ordernya 250 pieces”, Lantas berapa keuntungan yang didapat diperoleh? Kalikan saja dengan harga cireng perbuahnya. Misalnya, jika satu outlet bisa menjual hingga 700 buah dengan harga Rp 3500 (harga untuk luar Bandung, red) maka franchisee sudah mengantongi lebih dari Rp 2 juta sehari. Walaupun Ucha mengatakan keuntungannya sedikit, tapi hitung-hitungan pasti tidak bisa menipu. Usaha yang dilakoninya ini terbilang sukses. Sebagai gambaran, jika ia mampu memasok lima ribu pieces sehari ke Aoutletnya, maka dalam sehari Ucha dapat mengumpulkan uang kurang lebih Sekian Juta. Angka yang cukup fantastis jika mengingat produk yang dijual adalah cireng, jajanan kampung yang biasa dijual paling tinggi seribu rupiah. kerana itu ia berani menjamin dalam waktu tak lebih dari tiga bulan, franchisee sudah bisa balik modal.

D. Kesimpulan

Dengan produk yang berkualitas dimana isian cireng memang daging asli bukan ‘daging-dagingan’ maka Ucha agak kesulitan menetapkan harga yang bisa ‘win-win soluitons’. Saat ini cireng Kraton ada 10 pilihan rasa sosis pedas, ayam pedas, oncom pedas, sapi pedas, baso pedas, pizza, ayam teriyaki, keju, barbeque dan kedap (keju, daging asap). Tergoda untuk mencobanya?
Keunggulan cireng Keraton :
1. Produk tergolong mewah dengan ukuran lebih besar dari cireng kebanyakan dan isian yang sangat
variatif. Tidak menyerap minyak sehingga yang dimakan konsumen adalah cireng sesungguhnya
dalam arti bukan makan minyak.
2. Harga sangat terjangkau. Sulit menemukan produk yang high quality dengan harga murah.
4. Peluangnya sangat besar mengingat produk cireng dengan isian yang komplit masih jarang kompetitor.

Dan untuk kedepanya di harapkan Cireng Krtaon dapet go Internasional sebab menurut saya Cireng kraton ini tidak kalah dengan prodak-prodak yang ada di Mall khusunya Mall jakarta. Selain dapat melestarikan Makanan Daerah ( Bandung) cireng kraton juga merupakan makanan yang harganya dapat di jangkau oleh masyarakat Indonesia. Sekali lagi saya harap Cireng Kraton dapat trus Eksis di dunia Wirausaha Indonesia.


D. Lampiran – Lampiran

Createad By : Rikih (2007-53-003)
http://lupiz-rikihjournalism.blogspot.com/ Baca lebih lanjut

Iklan

Januari 21, 2010 Posted by | tugas Akhir | 2 Komentar

Tim Nasional SEA Games 2009 Timnas Indonesia Bakal Diarsiteki Pelatih Uruguay

( Selasa, 17/02/2009 14:55 )
Pelatih asal Uruguay bakal mendapat kepercayaan dari Badan Tim Nasional (BTN) untuk menukangi timnas Indonesia di ajang SEA Games 2009 mendatang. Pelatih tersebut nantinya bakal dibebani target merebut medali di ajang terbesar se Asia Tenggara tersebut.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Rahim Soekasah di Jakarta, Senin (16/2) kemarin. Pasalnya, saat ini timnas Indonesia U-16 yang tengah mengikuti kompetisi di uruguay juga dilatih oleh pelatih Uruguay, Cesar. Rahim sendiri mengaku sudah memasukkan 30 nama pemain muda yang pantas masuk ke timnas yang nantinya bakal disaring lagi menjadi 22 pemain.

menurut Rahim, seleksi pemain timnas bakal digelar awal Maret nanti. Pihaknya berjanji bakal mengumumkan pemain yang berhak mengikuti seleksi pada minggu depan. Dari hasil seleksi itu, para pemain akan menjalani Pelatnas di Uruguay.

Di ajang SEA Games Indonesia jarang merebut medali emas, yang terakhir direbut tahun 1991. Di SEA Games ke-24 Thailand, Indonesia gagal setelah tertahan di babak penyisihan. Diharapkan di SEA Games Laos mendatang Indonesia mampu merebut medali. – phery –

http://ligaindonesia.com/index.php?action=news.detail&id_news=4503&judul=Timnas%20Indonesia%20Bakal%20Diarsiteki%20Pelatih%20Uruguay

Createad By rikih(2007-53-003)

http://lupiz-rikihjournalism.blogspot.com/

Desember 15, 2009 Posted by | olah raga | | Tinggalkan komentar

Liga Calcio Serie A

VIVAnews – Pentas Serie A kini masih memasuki tahap rehat. Namun Lega Calcio, pihak yang bertanggung jawab menggelar kompetisi ini telah mengumumkan jadwal kick-off musim depan.

Seperti yang dilansir Goal, Lega Calcio secara resmi mengumumkan jika pertandingan pertama Serie A musim 2009/2010 akan digelar pada tanggal 22 dan 23 Agustus, bulan depan.
Seperti biasa, pertandingan Serie A memang akan digelar dua hari dan akan libur untuk even internasional dan hari natal.

Hingga saat ini jadwal lengkap memang belum selesai disusun. Namun dua pertandingan awal itu telah ditentukan. Kompetisi Serie A juga dipastikan akan berakhir pada tanggal 16 Mei 2010.

Dalam pengumuman itu juga dijelaskan bahwa kompetisi Serie A akan libur pada tanggal 11 dan 15 Oktober 2009 karena timnas Italia akan menjalani laga kualifikasi Piala Dunia.
Sedangkan untuk menghormati Natal, kompetisi akan berhenti dari tanggal 27 Desember 2009 hingga 3 Januari 2010.

Di jadwal sementara itu juga dapat dipastikan jika laga Serie A akan digelar di pertengahan pekan pada tanggal 23 September dan 28 Oktober 2009, 6 Januari dan 24 Maret 2010. http://bola.vivanews.com/news/read/73912-lega_calcio_rilis_jadwal_serie_a.(rkh)

Createad By rikih(2007-53-003)

http://lupiz-rikihjournalism.blogspot.com

Desember 15, 2009 Posted by | olah raga | Tinggalkan komentar

Ketika politik luar negri diatas semua golongan

Sebelumnya diberitahukan bahwa berita ini ditranslate dan disadur berdasarkan berita dari [a url=http://www.erepublik.com/article-613612.html]Resistance International[/a] dan dari berita di [a url=http://www.erepublik.com/forum-topic-70952.html]forum[/a] yang dipost oleh Vaclav, dengan beberapa analisa tambahan.

Resistance SO, sebagai salah satu analis yang bermutu di bidang geopolitik dunia, telah mengemukakan hasil analisanya tentang keadaan geopolitik di dunia dalam bentuk Map Stabilitas Politik yang dapat kita lihat di [a url=http://img93.imageshack.us/img93/7183/stabilitycomplexdraftbs1.jpg]sini[/a]

analisa ini dikalkulasikan dari faktor positif dan negatif yang terdapat pada sebuah negara, termasuk aktifitas gerakan kemerdekaan/gerakan bawah tanah, kesitegangan antara pribumi-penjajah/pribumi-asing, disorganisasi militer, hyperinflasi, taktik gerilya, ketidakstabilan ekonomi, semangat anti-goon, ancaman akan serangan, nasionalisme, hubungan social internal, kekuatan pemerintah, kekuatan militer, kekuatan para partisipan debat (dalam pemerintahan atau pemilu), tingkat kekayaan kas negara (gold dan atau mata uang), jaringan persekutuan (MPP), keanggotaan dalam aliansi2 militer, kemampuan pemerintah dalam mengorganisir, dan faktor minor lainnya.

Negara yang paling Stabil saat ini adalah Swedia, UK, Indonesia, US, dan Spanyol, dan yang paling tidak Stabil adalah Afrika Selatan, Turki, Mexico, dan Hungaria

Spanyol:
Terlepas dari amukan anti-goon dan isu2 lainnya, Spanyol masih berada di posisi 3 besar sebagai negara paling Stabil bersama2 dengan US dan Indonesia.

Irlandia:
Stabilitas Irlandia sudah berlipat ganda sejak akhir bulan dikarenakan dapat disingkirkannya rezim Victor Petrescu, dan partai politik yang normal secara perlahan kembali di negara itu dengan kenaikan IUP yang melanjutkan usahanya untuk menguasai Irlandia.

Norwegia:
Kemenangan nasionalis Finlandia di Norwegia menyebabkan penurunan yang signifikan terhadap stabilitas nasional, dengan inunova sebagai presiden, Finnish Resistance kini menguasai Norwegia, Rusia, dan Finlandia, tetapi info lain menyebutkan bahwa terlepas dari penguasaan Finlandia di kongres (42,86%), Finlandia masih dibawah status quo

Rumania:
Setelah invasi atas Hungaria dan beberapa masalah integrasi sesudahnya, poin Rumania menurun, dan hanya akan kembali ke level selanjutnya apabila Rumania melakukan usaha yang serius untuk merangkul wilayah2 Hungaria yang dikuasai, selain itu banyaknya berita2 simpang siur tentang Rumania yang berhasil memenangkan perang karena klonengan dan klonengan itu digunakan untuk menyuntik wellness, dan sumber gold, dan keberpihakkan admin terhadap Rumania nampaknya akan tetap melekat di nurani anggota PEACE dan negara2 non-ATLANTIS untuk jangka waktu yang cukup lama.

Hungaria:
Poin Hungaria sangat menurun setelah invasi Rumania, dan hanya beberapa wilayah yang tersisa dari Hungaria, termasuk 2 Wilayah ex-Slovakia, dan 2 wilayah Hungaria yang menjadi ibukota mereka setelah Republik Ceko merebut ibukota mereka yang lain.

Cities Regions (4) Population (325)
Bratislava Bratislava Region 40
Gyor Western Transdanubia 212
Nitra Western Slovakia 24
Pecs Southern Transdanubia 49

Mexico:
Situasi politik di mexico masih tidak stabil karena perang dengan salah satu negara adidaya, yaitu Spanyol, akan tetapi, kecuali Portugal dan Spanyol berperang dan Spanyol berhasil mendapatkan akses ke Mexico, nampaknya mereka dapat menarik napas

Turki:
ex-Presiden Onrche, telah dibanned oleh admin, kini Hufflepuff, adalah pemimpin baru Turki dan juga pemimpin dari Israeli Resistance. Yang mana ditanggapi oleh para Nasionalis Turki dengan umpatan2 dan menganggap bahwa ini tidak adil, dan beberapa lagi mencoba dengan flooding di forum dengan menganggap bahwa admin telah berlaku rasis terhadap Turki, dan Onrche sampai sekarang nampaknya belum lelah untuk berusaha mengembalikan karakternya yang dibanned dengan meminta petisi2 untuk di signed dan ditunjukkan kepada admin, yang sayangnya, dituding oleh banyak pihak, ternyata petisi itu disigned oleh klonengan2 si Onrche juga.
Kembali ke Presiden baru Turki, HufflePuff yang semakin membuat situasi di Turki memanas dengan menyatakan :

“Kepada sesama wargaku di negara yang hebat ini, dengan segenap rasa terimakasih dan segala kerendahan hati, saya terima pilihan kalian yang telah memilihku sebagai presiden eIsrael”

“Jadi saya katakan kepada kalian, kerajaan Israel baru, kita lebih baik dari 2 bulan yang lalu, kita adalah negara yang lebih baik dari ini”

Banyak orang Turki yang marah dan menyatakan bahwa “kau tidak bisa mengambil alih negara ku dan mengganti namanya menjadi Israel !”

Beberapa warga Turki berusaha memberikan perlawanan dengan memboykot produk2 Israel, dan memboykot proposal2 di kongres”

Afrika Selatan:
Negara dengan skor terbawah di index, yang mana kini, sedang diambil alih oleh bangsa dari daerah balkan, jauh di benua eropa, yaitu Kroasia, ya bangsa Kroasia yang telah berkali2 memohon2 kepada admin agar diberikan negara tetapi tidak digubris, akhirnya menancapkan benderanya di Afrika Selatan, dimana Zocky, sebagai pemimpin baru Afrika Selatan, telah menguasai 23,19% kongres dengan partainya Proud Africa, gerakan awal Zocky adalah menandatangani MPP dengan Italia, yang mana merupakan hal yang agak aneh, karena Afrika Selatan sebelumnya dikenal dekat dengan Swedia, dan memiliki beberapa MPP dengan negara ATLANTIS, tetapi seperti yang kita ketahui, bahwa italy adalah bagian dari PEACE. Selain isu2 ini, kesalahan dalam menerapkan kebijakan politik yang menyebabkan blunder dan kritik yang tidak habis2 di media2 afrika selatan mewarnai hari2 negara asal Nelson Mandela itu.

Republik Ceko:
Negara netral di ER, yang mana masih tetap berada di posisi netral dari awal, akan tetapi Tsar Ivan Hat yang baru telah memilih untuk mendukung Rumania dalam usaha mereka untuk menguasai Slovakia dan membuka kembali hubungan diplomatik dengan Rumania, karena janji Rumania untuk memerdekakan Slovakia pada V1.

ed-note: Sebenarnya kita boleh cukup berbangga karena situasi politik di Indonesia di bilang stabil, padahal kalo kita nengok kebulan lalu aja, sempet ada ricuh2 kecil gara2 ada oknum yang masang logo salah satu partai yang dibuang ke tempat sampah, tapi untungnya, masalahnya ga jadi panjang, nah sekarang mungkin angin yang menerpa kita adalah proposal Zaney tentang commonwealth Indo-Aussie, yah untuk lebih lengkapnya bisa diliat di articlenya, kayaknya sih belum tenggelam soalnya votenya banyak, oiya kalo suka jangan sungkan2 untuk ngevote ya, lebih bagus lagi kalo subscribe, selamat sahur.(rkh)

http://www.erepublik.com/en/article/peta-politik-dunia-pasca-perang-dunia-i-616231/1/20
http://www.youtube.com/watch?v=dcURYqDGqX0

Createad By rikih(2007-53-003)

http://lupiz-rikihjournalism.blogspot.com

Desember 15, 2009 Posted by | politik | Tinggalkan komentar

Citizen Journalism LSI Kembali Memprovokasi Pemilih!

Sepulang mencontreng di TPS terdekat, saya langsung menghidupkan TV One. Alangkah terkejutnya saya menyaksikan LSI sudah merilis quick count sementara pada pukul 10.45 WIB, yang menempatkan SBY sebagai pemenang dengan perolehan suara 58%, di susul JK (25%) dan Mega (15%). Kok bisa?
Saya tidak habis pikir, bagaimana LSI bisa bekerja secepat itu. Memang di Indonesia Timur saat itu sudah pukul 12.45 WIT. Katakanlah tidak ada warga yang mencontreng dengan KTP di TPS tempat LSI mengadakan quick count.
Maka tepat pukul 10.00 WIB, TPS di Indonesia Timur memulai menghitung surat suara yang dipakai dan sisanya, lalu menghitung perolehan suara. Apakah KPPS sanggup melakukannya kurang dari 45 menit?
Setelah itu petugas LSI mengirim data tersebut ke pusat prossesing data. Setelah selesai memproses data, LSI merilisnya di TV One. Sungguh fantastis dan tidak masuk akal!

Saya mencurigai LSI merilis angka fiktif, yang akan mereka koreksi sedikit demi sedikit sampai akhirnya LSI merilis hasil akhir quick count. Jika demikian, rilis pada pk 10.45 adalah provokasi pada pemilih di Indonesia Tengah dan Barat yang belum mencontreng
http://www2.inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/07/08/125568/lsi-kembali-memprovokasi-pemilih.(rkh)

http://www2.inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/07/08/125568/lsi-kembali-memprovokasi-pemilih/

Createad By rikih(2007-53-003)

http://lupiz-rikihjournalism.blogspot.com

Desember 15, 2009 Posted by | politik | Tinggalkan komentar

Menulis Berita Ekonomi Bisnis

May 13, 2008 · Filed Under jurnalisme
Berita ekonomi dan bisnis, bagi negara seperti Indonesia, terus menempatkan diri pada posisi yang semakin penting. Dan pers bertambah sadar bahwa berita ekonomi dan bisnis bukanlah subjek yang sebaiknya ditempatkan di halaman tersembunyi. Berita ekonomi dan bisnis mempengaruhi siapa pun, dari bankir hingga mereka yang membeli roti atau beras di pasar. Simak apa kata sebuah koran terkemuka tentang berita ekonomi dan bisni

Sejak Program penyesuaian struktur ditetapkan sebagai langkah besar pertama dalam usaha pemerintah untuk mengubah keadaan ekonomi, istilah-istilah seperti Pasar Valuta Asing Lapis Kedua, pem-bayaran utang, penjadwalan kembali utang, pasar otonom, dll. Men-jadi rutin terbaca oleh warga biasa Nigeria.
Namun ada dua masalah dasar menyangkut berita-berita ekonomi dan bisnis. Yang kerap muncul adalah: Satu, rumit; dan Dua, men-jemukan. Penulis pada koran terkemuka tersebut benar tentang ma-kin sadarnya warganya pada isu-isu ekonomi. Namun bisa dipastikan kebanyakan warga sudah je-mu pada program dan lembaga yang disebutkannya– setidaknya dibandingkan dengan skandal-skandal politik yang tengah terjadi. Yang terutama menjadi penyebab adalah rumitnya berbagai program dan lembaga itu.
Istilah seperti Pasar Valuta Asing Lapis Kedua mungkin sudah men-jadi buah mulut warga kebanyakan, tapi mudah disangsikan banyak dari mereka – bahkan profesional terdidik sekalipun – yang mema-hami artinya. Seperti halnya orang di mana pun, kebanyakan warga tak belajar menjadi ekonom.
Jadi, apa tujuan seorang wartawan ekonomi dan bisnis? Jelas, yang terutama ingin dicapainya adalah melaporkan berita sea-kurat mungkin – sebuah misi luar biasa penting pada subjek yang memungkinkan seseorang kehilangan keberuntungan hanya karena salah meletakan titik atau koma pada deretan angka. Namun jika berita ekonomi dan bisnis pada hakikatnya kerap rumit dan mem-bosankan, ada tujuan lain yang tak kalah utamanya – menjadikan berita ekonomi dan bisnis: Satu, bisa dipahami; dan Dua, menarik. Kedua tujuan itu sama pen- tingnya baik di Lagos, di Lahore, di London, maupun Los Angeles. Bagaimana kita bisa membuat berita ekonomi dan bisnis mudah dipahami? Ada seorang redaktur yang, suatu ketika, mengatakan wartawan ekonomi dan bisnis yang baik harus mengikuti tiga aturan. “Yang pertama, “katanya, “adalah men-jelaskan. Yang kedua….. menjelaskan. Yang ketiga…..” – kita pasti bisa menebaknya.
Tapi sebelum wartawan bisa menjelaskan kepada orang lain, mere-ka sendiri harus memahami apa yang harus dijelaskannya. Dan un-tuk memahami, kerap mereka harus mengakui bahwa mereka memang tak tahu. Ini tak mudah.
Wartawan tergolong yang gengsian. Kalau kita benar wartawan, kita pasti tahu ini. Tak seorang pun mau mengakui kebodohan mereka, terutama bila seorang pejabat pemerintah atau seorang penting la-innya memanfaatkan peluang itu untuk menyepelekan. Tapi war-tawan, bagaimanapun, adalah komunikator, bukan ahli yang tahu segala hal; dan wartawan berkewajiban menyampaikan (berita) ke-pada pembacanya. Jika wartawan tak paham, pembaca pun tak akan bisa mencerna apa yang disampaikan. Jangan biarkan gengsi mem-buat lidah kita erat mengatakan, “Maaf, saya tak paham. Bisakah Anda menjelaskannya pada saya?”
Benar, seorang wartawan perlu memperhitungkan pembacanya ke-tika menulis berita, dan tak ingin menyepelekan. Namun lebih banyak penjelasan biasanya lebih baik ketimbang hanya sedikit. Pembaca yang cangih sekalipun perlu disegarkan ingatannya tentang konsep-konsep ekonomi. The Wall Street Journal bisa menjadi salah satu Koran terlaris di AS, tanpa kehilangan prestisenya, sedikit pun, ka-rena menyajikan berita ekonomi dan bisnis dengan penjelasan-pen-jelasan bagi pembaca yang bukan ekonom dan ahli bisnis. Tujuan Journal ekonomi dan bisnis – bukan mengecualikan mereka, seolah-olah bisnis adalah semacam kelab terbatas.
Setelah membuat berita ekonomi dan bisnis bisa dipahami, bagai-mana kita menjadikannya menarik? Jawaban pendeknya adalah: Pu-satkan sedikit saja pada statistik dan lebih banyak pada orang. Yang menjadi alas an orang di mana pun untuk lebih memilih berita tentang skandal politik mutahir ketimbang berita tentang pasar “Pasar Valuta Asing Lapis Kedua” adalah karena berita tentang skandal jelas me-libatkan banyak orang.
Ini bukan berarti kita sebaiknya hanya mengejar-ngejar skandal bis-nis. Ekonomi dan bisnis pada dasarnya menyangkut orang. Peru-bahan ekonomi mempe-ngaruhi sehari-hari orang. Bisnis penuh de-ngan drama kemanusiaan yang mencakup sukses, kegagalan, dan pergulatan antarpesaing untuk saling menyingkirkan. Tip-tip yang akan disarankan di sini ber-kaitan dengan cara mencapai dua tujuan ini: menjadikan berita dan bisnis mudah dipahami dan manarik. Sejumlah saran yang ada agak tak lazim; tapi akan baik jika dijadikan sebagai bahan diskusi.
Untuk memberikan ilustrasi disertakan kutipan dari sejumlah koran di Afrika Barat, India, dan di tempat-tempat lain di negara yang sedang berkembang. Beberapa kutipan sengaja diringkas karena keter-batasan ruang atau untuk menghindari dikenalinya koran atau peru-sahaan yang bersangkutan. Prinsip dasar jurnalistik bersifat univer-sal. Karenanya, tip-tip yang disarankan kebanyakan bisa diterapkan di mana pun profesi wartawan dijalankan. Kepentingan pembaca, bagaimana mereka bias memahami dan tertarik pada apa yang kita sajikan, betapa pun tujuan utama kita, kan?
1. Jangan Berkawan dengan Jargon
Simak kalimat dari laporan sebuah radio ini: Pejabat menyeru produsen barang-barang industri, konsumsi, dan produk-produk lain di dalam negeri agar terlibat dalam kampanye pengunaan bahan-ba-han dasar dari dalam negeri.
Gaya sangat akrab. Tapi apa maksudnya? Dalam bahasa seder-hana, pejabat itu semata mendesak agar industriwan dalam negeri mengunakan bahan-bahan mentah dari dalam negeri. Jadi, mengapa si wartawan tak mengatakaan begitu? Sayang, banyak wartawan terlalu kerap tergelincir ikut memamerkan jargon-jargon yang memusingkan dari ekonom, bankir, dan pejabat pemerintah ketimbang mengunakan bahasa yang digunakan banyak orang dalam percakapan sehari-hari. Bagi ekonom, jargon-jargon itu bukan masalah; mereka saling memahaminya – atau setidaknya ber-pura-pura begitu. Sebaiknya, bagi pembaca kebanyakan, jargon ekonomi membingungkan dan membosankan.
Istilah-istilah sulit serupa itu bisa tercetak karena begitu mudahnya mengulang kata-kata birokrat, ekonom, bankir, atau siaran pers ketimbang menerjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari. Wartawan pun kadang-kaang senang pamer kepada pembaca, dan mereka percaya jargon akan dilihat sebagai tanda kemajuan pendidikan dan kecerdasan mereka.
Namun sering wartawan sendiri tak paham apa yang dimaksud dengan jargon tertentu dan karenanya merasa aman untuk menulis-kannya tanpa perubahan sedikit pun. Meski sulit mernerjemahkan jargon ke dalam bahasa biasa, wartawan harus berusaha mela-kukannya. Tujuannya: pengguna bahasa sederhana untuk soal-soal yang ruwet. Idealnya, gunakan kalimat pendek, sedikit kata.
Bila berlebihan, penyederhanaan memang berbahaya. Namun bias-nya penyerdehanaan bisa dilakukan dengan selalu berhenti dan ber-tanya apa yang sesungguhnya dimaksud sesuatu jargon. Jika mung-kin, teknik terbaik adalah menanyakannya kepada penceramah yang mengatakannya agar meringkaskaan apa yang dimaksudnya ke dalam bahasa sehari-hari.
Birokrat sering mengunakan jargon karena mengatakan sesuatu secara sederhana akan terlalu blak-blakan. Simak laporan dari sebuah surat kabar Cina ini:
Cina harus berusaha mati-matian menyesuaikan struktur industrinya
untuk memastikan penggunaan dan pengerahan sum-ber-sumber ekonomi secara rasional, kata seorang eko-nom di Beijing akhir pekan lalu. Kepada peserta se-buah simposium internasional ia mengemukakan kon-tra-diksi struktural masih berlangsung di dalam industri Cina.
Paragraf tersebut penuh eufemisme. Bila seorang eko-nom berbicara tentang “pengunaan rasional” dari “sum-ber-sumber ekonomi”, biasanya mereka bermaksud mengatakan perlunya pengur
angan jumlah pekerja – atau, lebih terus terang, memberhentikan pekerja. Jika ini memang yang dimaksud, katakan saja demikian. Dan apa yang dimaksud pembicara itu ketika mengatakan “kontradiksi struktural” masih berlangsung di dalam industri Cina? Jika mungkin tanyakan.
Hindarkan pula pengunaan akronim yang mem-bingungkan bila menyebut nama organisasi atau sesuatu program. Bahkan pada penyebutan kedua, kerap lebih jelas dengan menuliskan nama lengkapnya atau sebagian saja—misalnya Barito ketika menyebut untuk kedua kalinya nama Barito Pasific Timber, ketimbang menyingkatnya menjadi BPT. Wartawan sering ngotot beralasan sesuatu jargon sudah lazim di sesuatu tempat—misalnya “integrasi ke belakang” di Nigeria – sehingga “ setiap orang tahu apa artinya”. Namun bila diminta menjelaskannya, sering terbukti bahwa setiap orang memang tahu kecuali sang wartawan. Itulah tanda bahwa wartawan telah menjadi korban bahaya jargon ekonomi, terlalu sering mendengarkannya sehingga seperti lazim. Reporter harus terbiasa terus menerus bertanya: Bisakah ini dikatakan secara lebih jelas?
2. Definisikan Istilah Ekonomi
Bila tak bisa menghindarkan jargon ekonomi, definisikan. Beberapa istilah ekonomi memang punya arti khusus yang jika ditanggalkan bakal membingungkan. Namun ingat, bagi banyak orang, istilah-istilah itu masih me-rupakan kode kata-kata yang misterius; Wartawan harus memecahkannya. Ini ringkasan dari sebuah artikel di halaman depan Daily Times, sebuah koran Nigeria:
Suku bunga antarbank, yang relatif stabil dalam tiga bulan terakhir, melonjak tiga persen pekan lalu….
Di bagian tengah berita yang sama, sang reporter me-nulis: Suku bunga antarbank adalah suku bunga pinja-man yang diberlakukan oleh bank kepada bank lain dan biasanya menjadi faktor dasar yang dipertimbangkan oleh bank dalam menetapkan suku bunga pinjaman
nasabahnya…..
Bravo! Tanpa definisi yang sangat membantu itu, tulisan tersebut jelas akan menjadi tak berarti bagi banyak pem-baca yang buta suku bunga antarbank. Definisi seperti itu sangat jarang ada dalam berita-berita bisnis.
Beberapa wartawan mengatakan bahwa definisi boleh-boleh saja untuk berita halaman depan sebuah koran umum, tapi pembaca halaman bisnis atau publikasi bisnis sudah sangat kenal dengan isti-lah-istilah ekonomi.
Mungkin. Tapi The Street Journal, yang pembacanya adalah kelompok yang cukup canggih, mendefinisikan bahkan istilah-istilah ekonomi yang sudah sangat biasa. Misalnya ketika istilah Produk Nasional Bruto (PNB) pertama kali muncul dalam sebuah berita, ini akan diikuti oleh penjelasan bahwa PNB adalah “nilai total barang dan jasa yang dihasilkan oleh sebuah negara”.
Sebelumnya telah dikatakan bahwa seorang wartawan harus berusaha mengunakan sedikit saja kata. Mendefinisikan, istilah, jelas, membutuhkan kata-kata ekstrak, Namun kejelasan lebih penting ketimbang keringkasan. Dan sebuah definisi yang berkepanjangan tak selalu perlu bila contoh ringkas bisa memperjelas makna sebuah istilah. Contohnya sebuah berita mungkin menyebutkan sebuah perusahan memberikan “fasilitas dan tunjagan, seperti cuti tahunan dan asuransi kesehatan”.
Tapi sering definisi panjang dibutuhkan. Sebuah koran Nigeria memuat artikel tentang pro kontra terhadap “konversi utang” – tanpa sekalipun mendefinisikannya! Sebuah penjelasan sederhana mungkin menyatakan: “Konversi utang adalah skema pembebasan Nigeria dari utangnya cara menukar utang dengan saham peru-sahaan-perusahaan Nigeria.”
Definisi objektif itu kelihatan mudah, tapi sesunguhnya sulit dituliskan. Itulah sebabnya reporter atau media masa tempat mereka bekerja harus membuat definisi yang bi-sa dengan mudah dikutip dan disisipkan ke dalam se-buah berita bila suatu istilah dipakai. Daftar serupa ini, tentu saja, tak mungkin diciptakan dalam semalam; ini akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Beberapa istilah yang biasa dipakai pijakan: neraca pembayaran, suku bunga utama, Dana Moneter Internasional, devaluasi, swasta-nisasi, Perjanjian Umum tentang Perdagangan dan Tarif atau GATT,
3. Gunakan Statistik secara Seletif
Berita bisnis biasanya mengandung terlalu banyak ang-ka. Meski angka yang penting bisa menjadikan berita lebih berwibawa dan akurat, wartawan harus me-ninggalkan angka-angka yang tak penting benar. Ini tam-paknya saran yang ganjil bagi wartawan bisnis, yang ba-han mentahnya kerap semata berupa angka dan stasitik. Namun memang banyak pembaca yang memandang angka terlalu kering dan sulit dicerna. Coba Tanya seseorang yang telah berusaha keras membolak-balik beberapa halaman tabel stasistik. Akibatnya, sebuah berita dengan begitu banyak angka menjadi—tebak sen-diri—membosankan dan sulit dipahami.Jika perlu, tam-bahan informasi yang bersifat statistik bisa dimasukan menjelang bagian akhir berita, khusus untuk pembaca yang tertarik pada detail. Dengan mengangkat begitu banyak angka di bagian atas berita, sang wartawan telah memaksa banyak pembaca enggan menyimak isi berita selebihnya.
Mengapa wartawan begitu kerap membebani berita dengan banyak statisitik? Hanya ada satu jawaban: me-reka menunjukan kepada pembaca (atau redaktur) bah-wa mereka menempuh segala kesulitan untuk menda-patkannya. Karena telah mencatat statistiknya, sang war-tawan ingin menumpahkan seluruhnya ke dalam berita. Namun karena membekukan benak pembaca, statistik sebaiknya digunakan secara selektif. Pembaca umum tak membutuhkan seluruh data—dan pembaca ahli—biasanya sudah punya sendiri.

Jika reporter dan redaktur mengira bahwa kepada pembaca perlu disajikan seluruh data yang ada, pemanfaatan bagan dan tabel akan lebih tepat -lebih mencuri perhatian dan mudah di pahami. Terkadang
wartawan seperti nyaris terobesisi oleh angka, misalnya ketikan mereka melaporkan nomor polisi kendaraaan atau nomor cek suatu bank. Di negara yang peme-rintahnya kerap mempertanyakan akurasi pers, mungkin ini perlu. Tapi biasanya informasi semacam ini tak me-nambah banyak peran pada berita kecuali menunjukan – sedikit berlebihan – bahwa sang wartawan benar-benar melakukan telah tugas.
Bila memang dipakai, angka terkadang bisa dibuat se-sederhana mungkin dengan cara membulatkannya atau memakai pendekatannya. Jelas, dalam beberapa segi pelaporan kegiatan bisnis, kete-patan sangat diperlukan; untuk harga saham dan komoditas, misalnya, fluktuasi sedikit saja sangat berarti. Tapi pada banyak keadaan seorang reporter cukup mengatakan “kira-kira separo” ke-timbang “49 persen” atau “hampir lipat tiga” ketim-bang “naik 295 persen”.
4. Bandingkanlah setiap Statistik
Bila kita memang mengutip statistik dalam sebuah berita, akan baik bila kita menempatkannya dalam kon-teks dengan cara membandingkannya dengan hal lain. Sebuah angka tak akan berarti apa-apa bila berdiri sendiri; maknanya yang sebenarnya muncul dari nilai relatifnya. Sebagai acuan, selalu ajukan pertanyaan ini pada diri sendiri, terutama bila hendak membubuhkan angka pada berita yang tengah ditulis: Dibandingkan dengan apa? Ini kebiasaan baik.
Banyak statistik bisa dibandingkan dengan statistik yang sama dari periode lain-umpamanya tahun lalu. Angka-angka itu pun bisa dibandingkan dengan statistik yang sama dari tempat lain-misalnya negara tetangga atau perusahaan pesaing. Jika angka yang dimaksud mewakili hanya sebagian dari suatu keseluruhan-misalnya laba satu divisi sebuah perusahaan-nilai relatifnya bisa ditunjukkan dengan menyodorkan presentasenya dari angka keseluruhan.
5. Ceritakanlah Statistik
Tapi bahkan membandingkan statisitik pun biasanya tak cukup. Seorang wartawan perlu melakukan hal lain ketimbang sekedar melaporkan angka. Ia harus menje-laskan nilai pentingnya dan mengatakan maknanya. Dan ini kerap tak sangat jelas. Bagaimana kita menjadikan sajian statistik yang bermanfaat itu sebagai sebuah berita yang bermakna? Perbandingan antar-tahun tak cukup untuk mengungkapkan seluruh cerita di balik stastistik. Wartawan harus berhenti sejenak, mencermati seluruh angka di hadapannya, dan bertanya pada diri
nya sendiri: Apa yang sesungguhnya terjadi di sini?
Dengan bertanya—dan menjawabnya—sang reporter bisa menjelajah dimensi lain selain sekedar melaporkan angka, dan karenanya menjadikan stasistik yang ada sebagai sebuah berita yang ber-makna. Dan arti itulah yang harus ditempatkan di beberpa paragraf pertama, bukan angkanya. Dihadapkan pada stastistik kasar, seo-rang wartawan harus bertanya: Apa ini artinya? Jawa-bannya atas pertanyaan ini lebih penting bagi pembaca ketimbang angka-angka yang memunsingkan
6. Cari Sisi lain
Tak ada prinsip utama yang dasar dalam jurnalistik ketimbang meliput dari dua sisi. Tapi betapa seringnya ini dilupakan – atau diabaikan – dalam berita-berita bisnis. Sering seorang reporter menerima pemberitaan rutin sebuah perusahaan, menuliskan beritanya – dan, ya, itu saja. Atau reporter itu mendapatkan informasi rahasia tentang rencana sebuah perusahaan dan segara menuliskannya.
Namun biasanya ada segi lain pada berita-berita seperti itu, dan tak jarang banyak segi. Meski seluruh informasi yang dibutuhkan seorang reporter tampaknya sudah di tangan, bila hanya satu saja sumber informasi, jarang diperoleh gambaran yang lengkap pada sesuatu hal. Reporter harus selalu bertanya-tanya. Dengan me-milih apa yang menarik dalam suatu berita – atau bahkan berita apa yang akan ditulis – seorang reporter sudah memihak. Itulah sebabnya kita harus berusaha mati-matian untuk bersikap adil kepada semua pihak.
Kadang-kadang ‘keberpihakan’ serupa itu bukan timbul akibat kecerobohan atau kemalasan reporter tapi karena adanya “tekanan” dari luar – dari sebuah perusahaan, atau pemasang iklan. (Ada pula, terkadang, “tekanan” dari dalam, dari pemilik koran yang tak ingin
kepentingan bisnisnya – atau teman-temannya – dieksploitasi.)
Sayangnya, keadaan keuangan banyak koran memberi peluang pemasang iklan untuk mendiktekan topik liputan, melemahkan kebebasan editorial. Wartawan profesional hanya bisa berharap agar penerbitan bisa menahan
“godaan-godaan” untuk menukarkan liputan yang positif demi iklan.
Kalau bukan itu yang terjadi, berita yang hanya menampilkan satu sisi saja cenderung menimbulkan kecurigaan pembaca bahwa tulisan yang ada sudah “dibeli” oleh pemasang iklan. Contoh, sebuah majalah bisnis di sebuah negara pengahsil minyak menurunkan laporan lengkap tentang usaha perusahaan minyak setempat untuk melindungi lingkungan.
7. Memanusiakan Berita Bisnis
Berita bisnis memang berhubungan dengan angka. Na-mun lebih dari itu, ia sekaligus juga menyangkut manusia. Bukan sekedar pejabat pemerintah dan eksukutif bisnis dan bankir dan ekonom, tapi manusia
nyata—lelaki dan perempuan yang menjadi konsumen dan pembayar pajak. Ini begitu sering dilupakan oleh wartawan bisinis.
Orang senang membaca drama keberhasilan dan ke-gagalan dan persaingan. Mereka senang mendegar su-ara rata-rata orang dalam kalimat-kalimat sederhana dan bersifat sehari-hari. (kontras dengan kutipan-kutipan
menjemukan dari para eksutif perusahaan, seperti termuat dalam siaran-siaran pers.) Mereka suka deskripsi rinci tentang orang dan peristiwa yang memungkinkan mereka menangkap apa yang sesunguhnya terjadi, seperti menyaksikan film.
Tapi bahkan dalam berita bisnis yang paling dasar pun
wartawan harus mencari sisi-sisi kemanusiannya. Ini biasanya menjadi petunjuk bagaimana wartawan mengaitkan sisi berita dari sebuah cerita. Pembaca biasanya harus bisa menjawab pertanyaan: Bagaiamana berita ini mempengaruhi saya?
8. Tunjukkan Makna Berita Bisnis
Bagi seorang wartawan bisnis, ada kewajiban untuk tak hanya melaporkan apa yang terjadi atau apa yang dikatakan seseorang, tapi juga menjelaskan maknanya. Berita harus lulus “uji lalu apa”
Sebuah tulisan berita harus menjelaskan kepada pembaca apa akibat sebuah peristiwa, mengapa pe-ristiwa itu penting – bagi perusahaan, bagi angkatan ker-ja, bagi,industri, bagi negara. Mengapa pula ia penting bagi pembaca.
Itulah cara terpenting yang memungkinkan wartawan menjadikan sebuah berita bisnis yang rumit menjadi mudah dipahami. Jelas, pertanya-pertanyaan itu tak bisa dijawab dalam satu tulisan saja. Tapi beberapa di antaranya harus. Dan jawabnya harus berada di awal tulisan, bukan tengelam dalam bagian-bagaian yang semakin tak penting. Sebuah laporan berita yang baik haruslah melaporkan fakta-fakta penting di bagian awal, lalu diikuti oleh penjelasan sederhana mengenai maknanya. wartawan bisa – dan harus – menarik simpulan logis dari peristiwa tanpa masuk ke dalam opini yang bisa diperdebatkan atau spekulasi yang tak bisa di-pertanggungjawabkan.
Salah satu cara untuk mengetahui apakah repoter su-dah menerobos wilayah opini yang berlebihan adalah: Bisakah pembaca mengatakan di mana letak simpati reporter, dipihak mana ia berada? Seorang pembaca harus tak bisa menjawab pertanyaan ini.
Beberapa penerbitan dan kantor berita cenderung men-jauhkan diri bahkan dari analisis dasar. Atau wartawan berhadapan dengan kendala politis. Jika demkian halnya, mereka bisa saja mencari sesorang,
analisis luar atau pejabat terkait, yang bisa memberikan analisis. Jika pada sebuah konferensi pers reporter ha-nya berkesempatan mengajukan satu pertanyaan, tak keliru jika bertanya: Mengapa berita ini penting? Biarkan sang pembicara menganalisinya sendiri. Tak jarang
hal ini menjadi lead sebuah tulisan. Tanpa analisis tulisan tak memberikan pemaham yang dibutuhkan pembaca.
9. Jangan Terpaku pada Siaran Pers
Sebuah siaran pers perusahaan atau pemerintah hanyalah sebuah titik beranjak bagi suatu berita bisnis. Liputan lanjutan biasanya diperlukan untuk menghidup-kannya. Kita perlu juga mewawancari perusahaan-peru-sahan pesaing, pengamat luar, konsultan, akademisi,
atau sumber-sumber lain untuk mendapatkan sisi dari berita. Dan sisi siara pers juga hampir selalu menim-bulkan pertanyaan yang mendorong kita untuk melengok langsung perusahaan yang mengeluarkannya. Mungkin pertanyaan penting adalah -silakan tebak – “lalu apa?”
10. Kail Gagasan-gagasan Baru
Mungkin cara terbaik untuk membuat berita bisnis menarik perhatian pembaca adalah menuliskan sesuatu yang tak biasa, hal menarik yang tak dilaporkan penerbitan lain. Dengan mencari sisi baru perkem-bangan bisnis. Dengan sudut pandang bisnis pada be-rita-berita umum. Dengan melihat sudut pandang ke-manusiaan pada berita bisnis. Dengan mempelajari ke-cenderungan-kecederungan yang menimbulkan dari – dan punya arti lebih penting – ketimbang peristiwa-pe-ristiwa tertentu. Itu jelas menurut penulisan berita feature yang melebar dari sekedar berita-berita sehari-hari yang bersifat siaran pers atau pengumungan pendapatan perusahaan. Tujuannya: Untuk mengajak pembaca lebih menyimaknya ketimbang berita lain pada halaman yang sama – atau justru berpindah halaman. Setiap media ma-ssa harus mendorong rapat-rapat seperti ini. Inilah be-berapa cara untuk mengali gagasan:
Cari sudut pandang bisnis pada berita-berita umum. Banyak hal yang kini tak bisa lepas dari bisnis, dan men-cari sudut pandang bisnis pada sebuah berita besar ber-peluang menarik minat pembaca.
Perhatikan kecenderungan tertentu. Sebuah peristiwa bisa jadi memang penting, tapi akan lebih penting bila itu jadi tanda bagi sejumlah kecenderungan yang lebih besar. Perhatikan hutannya, jangan sekedar pohonnya.
Cari sudut pandang kemanusiaan. Membaca tentang orang yang sukses berbisnis adalah hal yang menarik.
Hidup kerap sedramatis fiksi. Peliputan mendalam ke-rap bisa membangun sebuah narasi bisnis yang penuh perjuangan, harapan, kekecewaan dan akhirnya, keber-hasilan atau (kegagalan).
Wartawan juga harus mempertimbangkan perluasan definisi tradisional tentang berita bisnis. The Wall Street Journal telah menambah bagian yang berisi peliputan-peliputan sisi bisnis kesehatan, ilmu pengetahuan, hukum, olah raga, hiburan, dan subjek-subjek lain. Perhatikan pula bahwa bisnis tak selalu mengenai perusahaan besar. Bisnis skala kecil pun tak kalah penting nya bagai ekonomi suatu negara dan bi
asanya melibatkan lebih banyak orang. Berita tentang isu
yang mempengaruhi bisnis skala kecil umumnya banyak dibaca.
Wilayah bisnis lain yang kini berkembang adalah keu-angan orang seorang, yang menjanjikan kepada pem-baca saran ahli tentang bagaimana mengelola uang. Berita-berita demikian ini meliputi subjek-subjek,seperti jenis investasi baru, praktik penipuan yang merugikan investor atau perbandingan mengenai insentif yang ditawarkan bank kepada nasabah.(rkh)

http://thesocratesmedia.com/menulis-berita-ekonomi-bisnis/

Createad By rikih(2007-53-003)

http://lupiz-rikihjournalism.blogspot.com/

Desember 15, 2009 Posted by | ekonomi | Tinggalkan komentar

Ekonomi Luar Negri

LONDON, KAMIS – Sebagian besar nilai saham dunia Kamis (2/10) melemah setelah nilai saham Wall Street yang dibuka anjlok saat meluasnya keprihatinan pasar terhadap kemerosotan ekonomi yang dikhawatirkan tak dapat diatasi oleh paket penyelamatan ekonomi AS. Kalangan investor di Asia tak merasa puas dengan kesepakatan Senat AS terhadap paket penyelamatan ekonomi revisi.

Investor masih mempertanyakan apakah paket penyelamatan ekonomi itu nantinya dapat kembali memperbaiki kondisi ekonomi global. Setelah hampir 2 jam pembukaan transaksi di bursa Wall Street, indeks Dow Jones turun 2,01 persen serta berada pada 10.612,83.

Melemahnya nilai saham Wall Street mengakibatkan turunnya sejumlah saham Eropa. Indeks FTSE 100 Inggris turun 1,05 persen serta berada pada 4.907,44, indeks DAX di Jerman turun 2,45 persen serta berada di posisi 5.666,29 dan indeks CAC 40 di Perancis melemah 1,32 persen serta berada di posisi 4.001,08 pada transaksi sore hari di Eropa. Seluruh tiga indeks saham Eropa tersebut sempat mengalami kenaikan sebelum pembukaan transaksi di Wall Street hari ini.(rkh)

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/02/23553141/kekhawatiran.krisis.ekonomi.global.benamkan.saham.dunia

Createad By rikih(2007-53-003)

http://lupiz-rikihjournalism.blogspot.com

Desember 15, 2009 Posted by | ekonomi | | Tinggalkan komentar

Soladaritas Kemanusiaan untuk gempa Padang Sumatra Barat

Rabu, 30 September 2009 | 20:03 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Gempa berkekuatan 7,6 skala Richter yang mengguncang wilayah Sumatera Barat, Rabu (30/9) pukul 17.16 WIB, dirasakan warga yang berada di Sumatera Utara, Aceh, hingga Kuala Lumpur, Malaysia.

Di Medan warga berhamburan menyelamatkan diri ke luar Gedung Sun Plaza saat gempa mengguncang. Sementara di Malaysia hal serupa juga terjadi dan pascagempa petugas pemadam kebakaran berkeliling memonitor kota Kuala Lumpur(rkh)

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/30/20033875/berita.foto.kepanikan.saat.gempa.sumbar
Createad By rikih(2007-53-003)

http://lupiz-rikihjournalism.blogspot.com

Desember 10, 2009 Posted by | sosial | Tinggalkan komentar

Pembatasan Siaran Luar Negeri Akan Timbulkan Retaliasi

Jakarta, Kompas – Pembatasan terhadap substansi siaran luar negeri tertentu, sebagaimana tertuang dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran, terlalu berlebih-lebihan dan tidak sesuai dengan semangat keterbukaan dan demokratisasi yang didengung-dengungkan di Indonesia. Pembatasan itu akan menimbulkan retaliasi (retaliate) oleh negara-negara yang terkena ketentuan baru tersebut. “Ketentuan seperti itu akan menimbulkan aksi reciprocal (timbal balik-Red) dari luar negeri terhadap Indonesia, seperti ketika pada zaman Orde Baru saat Menteri Penerangan Harmoko melarang iklan luar negeri yang dibalas dengan ancaman penghentian impor produk garmen dan sepatu dari Indonesia,” kata Koordinator Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI) Leo Batubara di Jakarta, Senin (2/9), menanggapi usulan terbaru Tim Perumus RUU Penyiaran yang melarang lembaga penyiaran melakukan relai siaran dari lembaga penyiaran luar negeri, kecuali untuk siaran olahraga. (Kompas, 2/9) Pandangan serupa juga dikemukakan praktisi penyiaran Santoso yang dihubungi secara terpisah, kemarin. Menurut dia, RUU Penyiaran tidak perlu melakukan pembatasan terhadap format maupun durasi siaran dari luar negeri, tetapi sebaiknya menyerahkan saja pengaturannya pada lembaga penyiaran bersangkutan. Dalam situasi sekarang, kata Santoso, pertukaran materi siaran antar-di dalam dan luar negeri merupakan hal yang biasa dan tidak perlu dihalang-halangi. “Lembaga penyiaran televisi atau radio memiliki kapasitas untuk melakukan pembatasan. Pembatasan itu hanya didasari kekhawatiran-kekhawatiran bahwa siaran dari asing membawa misi tertentu,” kata Santoso. Frekuensi publik Dalam pembahasan Tim Perumus RUU Penyiaran, 29-30 Agustus 2002 lalu, pada Bagian Ketiga tentang Relai dan Siaran Bersama antara lain juga mengatur soal relai siaran luar negeri. Pasal 27 Ayat (2) berbunyi, Relai siaran yang digunakan sebagai acara tetap, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, dibatasi. Ayat (3) berbunyi, Khusus untuk relai siaran acara tetap yang berasal dari lembaga penyiaran luar negeri, durasi, jenis dan jumlahnya dibatasi. Penjelasan Pasal 27 Ayat (3) menyebutkan, yang dimaksud dengan pembatasan jenis siaran acara tetap… adalah acara siaran warta berita, siaran musik yang berpenampilan tidak pantas dan acara-acara siaran olahraga yang memperagakan adegan sadis. Ketua Tim Kecil RUU Penyiaran Amin Said Husni (Fraksi Kebangkitan Bangsa) mengatakan, yang dilarang dalam Pasal 27 itu adalah relai untuk acara tetap, yaitu acara siaran luar negeri yang disiarkan secara rutin oleh lembaga penyiaran di Indonesia. Dengan ketentuan itu diharapkan dapat dihindari adanya televisi yang hanya merelai siaran luar negeri, sekaligus untuk merangsang televisi lokal membuat siaran sendiri. “Kita tidak ingin radio dan televisi kita hanya menjadi kios lembaga penyiaran asing. Kalau soal berita, kan, radio dan televisi lokal juga sudah menyiarkan berita luar negeri,” kata Amin, yang juga Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) RUU Penyiaran. Anggota Tim Perumus RUU Penyiaran dari Fraksi Reformasi Djoko Susilo mengakui Tim Perumus memang merancang pelarangan relai siaran luar negeri, terutama untuk siaran warta berita, siaran musik yang tidak pantas, dan siaran

olahraga yang sadis. Dengan demikian, siaran Voice of America (VoA) yang direlai Indosiar, atau BBC oleh radio El Shinta, dan TV Global yang seluruh acaranya merelai MTV, nantinya akan dilarang. “Prinsipnya, semua jaringan radio dan televisi yang menggunakan alokasi frekuensi dari pemerintah tidak boleh merelai siaran asing. Selama ini lembaga penyiaran luar negeri itu menggunakan frekuensi publik Indonesia yang sangat terbatas. Maka, merupakan kemubaziran apabila siaran itu hanya merelai siaran asing,” kata Djoko. Otoriter Leo Batubara menilai, aneh jika siaran warta berita luar negeri dilarang direlai di Indonesia karena berarti membatasi keterbukaan informasi. “Siaran berita luar negeri itu justru akan memperkaya wawasan kita. Seharusnya yang dibatasi itu cukup durasinya, tidak sampai ke substansi seperti itu,” katanya. Sebetulnya, lanjut Batubara, selain soal pembatasan relai, ada sejumlah pasal yang bersifat “otoriter”, seperti soal sensor terhadap film dan iklan pada Pasal 37. “Seharusnya yang melakukan sensor itu media yang bersangkutan dan jika melanggar dihukum menurut ketentuan hukum yang ada,” katanya. RUU Penyiaran juga diperkenalkannya penyidik di bidang penyiaran, yaitu Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Salah satu wewenang PPNS adalah menghentikan sementara penggunaan alat dan/atau perangkat penyiaran. “Itu sama saja dengan beredel, karena berarti pemerintah mengintervensi penyiaran dengan menempatkan ‘mata-mata’ untuk meneliti apakah lembaga penyiaran itu menyimpang atau tidak,” ujar Batubara. Bagi Santoso, relai siaran-siaran berita dari luar negeri justru memberikan pembelajaran kepada praktisi penyiaran di dalam negeri dan akan menyediakan keragaman informasi. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh alternatif informasi, memperoleh perspektif pemberitaan yang berbeda, dan dapat menangkap beraneka ragam program siaran. Direktur Eksekutif Kantor Berita Radio 68H ini menambahkan, lembaga penyiaran di Indonesia sebetulnya juga memiliki kesempatan yang sama untuk menjual program-program siaran ke lembaga penyiaran di luar negeri. “Kami sudah mulai mengirimkan program-program siaran berita ke Malaysia dan Australia,” kata Santoso. Terkait dengan masalah ini, gugatan juga datang dari Pengurus Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). General Manager Radio MS Tri Candi Perkasa Sinaga mengemukakan bahwa dalam perspektif demokrasi, relai siaran adalah hak bukan kewajiban. Karena itu, larangan relai terhadap siaran dari luar negeri harus ada penjelasan lebih lanjut. Menurut dia, pelarangan relai siaran berita ini akan mendapat reaksi keras dari para penyelenggara siaran radio karena saat ini ada sekitar 60 lembaga siaran radio yang melakukan relai siaran radio asing. Candi mengakui, bagaimanapun siaran radio asing pasti mempunyai misi. Radio VOA, misalnya, jelas mempunyai misi menyebarluaskan pandangan Pemerintah Amerika Serikat terhadap berbagai persoalan. Oleh karena itu, ia setuju ada pengaturan, namun bukan dalam bentuk pelarangan. Bagi m(BUR/WIS/LOK) asyarakat pendengar yang terpelajar, kata Candi, siaran relai dapat menjadi direlai, sedangkan siaran yang bersifat insidental bisa dimungkinkan. Sekarang, memilih siaran yang tetap dan insidental itu adalah salah satu masalah yang harus ditentukan bersama dan dicari solusinya,” kata Syamsul Muarif.(rkh)

URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/03/utama/pemb01.htm

Createad By rikih(2007-53-003)

http://lupiz-rikihjournalism.blogspot.com

Desember 10, 2009 Posted by | sosial | Tinggalkan komentar

Kebudayaan Jepang

KabarIndonesia – Korespondensi di abad modern ini rupanya tidak harus meninggalkan sistem konvensional yang telah kita kenal sejak berabad-abad lamanya. Begitu juga di berbagai event yang diselenggarkan saat ini masih banyak menggunakan cara yang masih terhormat khususnya dalam hal surat-menyurat.

Dalam mengadakan suatu event besar atau sejenis dan mengundang berbagai lapisan masyarakat, media massa maupun pejabat, biasanya memberikan sesuatu souvenir atau sejenisnya untuk mengingatkan kembali acara yang telah berlangsung. Hal ini tentunya adalah untuk mengingatkan kembali serta menghargai hal-ihwal tentang pentingnya arti persahabatan.

Apa yang dilakukan oleh Manajemen Hotel Nikko Jakarta dalam kegiatan yang telah selesai, mungkin sudah sangat jarang dilakukan oleh manajemen perusahaan lainnya khususnya pada media massa.

Menghargai berbagai upaya media massa seperti KabarIndonesia yang dikenal dengan Harian Online KabarIndonesia (HOKI) dalam meliput berbagai acara budaya dunia, khususnya budaya Jepang, rupanya mendapat kesan tersendiri. Sebuah surat telah dikirim secara khusus (28/4) oleh Direktur Sales & Marketing Hotel Nikko Jakarta, Mr. Jack Yaaro Zega yang diterima oleh Editor HOKI, Ruslan Andy Chandra Dipl. PR (Aust.), di Jakarta baru-baru ini.

Mr. Jack Yaaro Zega rupanya sangat terkesan dengan liputan KabarIndonesia dan menuliskan surat resminya. Berikut adalah kutipannya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris dan sebagian menggunakan bahasa Jepang.

Hotel Nikko Jakarta
28 April 2008

Mr. R. Andy Chandra
Editor KABARINDONESIA
Gedung Dewan Pers, Lantai 5,
Jl.Kebon Siih No.32-34, Jakarta Pusat

Yang terhormat Pak Andy,

Salam dari Hotel Niiko Jakarta!

Saya sangat senang atas kunjungan anda pada perayaan ke-3, “Jakarta Sakura Matsuri 2008.” Saya ingin menyampaikan penghargaan atas dukungan anda.

Terima kasih banyak atas perhatian dan kerja sama anda. Saya berharap kita terus berkolaborasi dan membangun persahabatan yang erat antara Hotel Niko Jakarta dan anda (KabarIndonesia) dalam kegiatan promosi dimasa yang akan datang.

Sekali lagi terima kasih banyak dan “Doomoo Arigato Gozaimashita”

Salam hangat,

Jack Yaaro Zega
Director of Sales & Marketing

Sebelumnya juga, General Manager Hotel Nikko Jakarta, Mr. Ryuhei Kono menyatakan kepada Editor HOKI yang datang di acara tersebut menyampaikan ucapan terima kasihnya. Begitu juga Mr. Masaki Tani dari Director of Information & Culture Center, Embassy of Japan (Direktur Informasi dan Pusat Budaya, Kedutaan Besar Jepang), Jakarta sangat senang atas liputan HOKI.

Menurut Ruslan Andy Chandra (2/5) saat acara berlangsung, HOKI juga mendemontrasikan website www.kabarindonesia.com pada pameran selama 2 hari budaya Jepang itu. Pada kesempatan itu Mr. Jack Yaaro Zega menyaksikan langsung berita dan gambar-gambar termasuk artikel Hotel Nikko Jakarta yang sudah naik tayang beberapa waktu lalu di HOKI.

Sementara itu di tempat terpisah, Pemimpin Umum HOKI di Belanda, Elisabeth Widiyati dan Pemimpin Redaksi HOKI, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA yang juga pernah mendapat beasiswa di Jepang sangat gembira membaca surat tersebut. Kedua petinggi di manajemen HOKI tersebut menyatakan akan terus berusaha untuk meningkatkan berbagai liputan untuk HOKI.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
  

Createad By rikih(2007-53-003)

Desember 10, 2009 Posted by | budaya | Tinggalkan komentar